Cahaya Allah di Atas Hati

Cahaya Allah di Atas Hati
Jikalau hatimu gundah, Allah tempat menenangkan jiwa

Kamis, 06 Februari 2014

Debu-debu Cinta



          Kini, kurasakan getaran hebat itu. Seluruh ragaku berteriak, batinku menjerit, ku rasakan jua apa yang engkau rasakan. Tiada air mata yang berlinang, semua kini beku. Aku pun teringat penggalan lagu wali band:
Mungkin hanya bila ku mati,
kau kan berhenti tuk menyakiti
Sampai kapan aku begini
Terus begini
Terus engkau lukai?
            Ketahuilah sahabat, mereka takkan pernah berhenti menyakiti sekalipun engkau mati. Bukan lagi akal sehat, bukan lagi nurani yang mereka pegang, tapi... seperti yang kita saksikan sendiri: Lautan darah yang kian meluas, dentuman meriam yang memekakkan telinga dan ribuan nyawa...yang melayang sia-sia.
            “Peluru itu... mengenai dada Umi, Abi dan kakak-kakakku. Sekarang aku sebatang kara...” Sayup-sayup suara Palestin membuat air mataku tak bisa tertahan. Timah panas yang mereka lesatkan telah merenggut nyawa orang-orang yang Palestin cintai. Palestin, gadis kecil itu menggenggam tanganku sangat erat di balik persembunyian kami. Kala itu, tentara musuh tengah memblokade jalan satu-satunya yang bisa kami lewati.
            Sebenarnya, tugasku hanya tinggal satu minggu, waktu begitu cepat, itu artinya aku dan Palestin akan segera berpisah dan...mungkin kita takkan bisa bertemu kembali. Tapi, kekuatan dan ketabahannya, mengurungkan niatku untuk kembali ke Indonesia. Aku akan minta tambahan waktu agar bisa lebih lama dengan Palestin. Ia begitu tegar menghadapi hidup ini, usianya baru sembilan tahun, tapi pemikirannya sudah seperti gadis yang usianya jauh di atasnya. Mungkin karena keadaan yang memaksanya menjadi anak yang kuat dan tangguh.
***
           
“Yakin kamu mau ke sana Bil? Setahuku, sudah ada sepuluh mahasiswa pergi ke sana dan... delapan diantaranya ngga bisa balik lagi ke sini. Aku dukung sih niatan baik kamu tapi, aku sebagai sahabat juga wajar kan kalau khawatir sama kamu.”
            “Karin, kamu tenang aja. Aku akan baik-baik saja di sana. Yang penting, kamu selalu doakan sahabatmu ini. Oke?” Aku memegang erat bahu Karin dan meyakinkan niatanku ini. Ia sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Sudah hampir delapan tahun kita bersahabat, susah senang kita hadapi bersama. Wajar kalau dia sempat tidak setuju kalau aku terbang ke Palestina. Maafkan sahabatmu ini Karin, aku menyayangimu selalu. Apapun yang akan terjadi nantinya, aku ikhlas karena inilah pilihanku, mengabdikan diri untuk saudara-saudara yang sangat memerlukan uluran tangan kita.
***
            Sesuatu yang luar biasa kini di depan mataku. Asap hitam yang begitu pekat menyelimuti kota ini. Suara dentuman meriam saling bersahutan. Aku lihat di ujung bukit itu... beberapa anak melempari tentara yang berjajar di depannya dengan batu-batu kecil. Hatiku kian teriris saat suara pistol yang begitu keras, nyatanya telah melesatkan timah panasnya dan mengenai salah satu anak di atas bukit tersebut. Aku berteriak dan hendak berlari menjemputnya. Tapi, salah seorang relawan mencegahku.
            “Jangan, jangan ke sana. Ini bahaya. Kejadian seperti ini sudah biasa. Ku mohon tetap di sini.” Hamzah, ia juga relawan dari Indonesia yang benar-benar mengabdikan hidupnya di kota ini, Palestin. Ia bergegas mencegahku saat aku ingin sekali membawa pergi anak-anak dari bukit itu. Aku tidak bisa tinggal diam melihat kekejaman di depan mata ini. Namun, selain Hamzah, beberapa orang juga mencegahku agar tidak nekat ke sana.
            “Ayo, kembali ke base camp, kita para relawan harus mengambil tindakan baru melihat situasi yang semakin genting ini.” Hamzah, yang juga merupakan ketua dalam kegiatan kemanusiaan ini menginstruksikan kepada para relawan lainnya untuk segera merapat. Aku pun menurutinya sesekali mataku tak bisa lepas dari pemandangan yang mencengangkan itu. Belum habis mata hatiku menyaksikan semua ini, tiba-tiba...
            “Tunggu Kak...!” Suara seorang gadis kecil, aku pun menoleh. Ada percikan darah di wajahnya, juga bajunya. Ia memandangku lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mendekati gadis itu dan mengusap percikan darah dari wajahnya.
            “Apa? Apa yang sebenarnya terjadi padamu hai gadis kecil?”
            “Mereka....Merekalah yang membuat aku seperti ini. Mereka manusia terkutuk!” Gadis itu menunjuk pada barisan tentara berseragam hijau pekat yang tak lain adalah tentara musuh.
            “Siapa namamu gadis cantik?” Aku menggendongnya dan ia mengalungkan tangannya pada leherku. Ku rasakan detak jantungnya yang kian tak beraturan dan wajahnya mulai pucat.
            “Namaku Pa...Palestin.”
“Nama yang bagus. Palestin, aku akan segera membawamu, agar lukamu bisa kami obati.” Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai basecamp, dan melihat anak kecil dalam gendonganku, beberapa relawan langsung bertindak. Termasuk Hamzah yang langsung menggantikan posisiku, ia meraih Palestin dan membaringkannya di tempat perawatan.
***
Wajah Palestin kini bersih seperti semula, tapi di pipi sebelah kirinya, ada tanda sayatan yang sangat kentara. Rupanya musuh telah melukai wajahnya tepat dihari di mana orang tua dan kedua saudaranya  meninggal karena lesatan timah panas tentara Israel. Aku mengamati wajah Palestin yang berbinar, dia menggandeng tanganku dan mengajakku ke suatu tempat. Ku biarkan langkahku mengikuti jejak anak kecil itu pergi.
“Kita mau ke mana Palestin?”
“Nanti kakak Sabil juga akan tahu sendiri.” Tegasnya sambil tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian...
            Aku dan Palestin tengah sampai di sebuah taman mini yang begitu indah. Ada warna-warna pelangi yang dibentuk oleh puluhan bunga yang berjajar rapi di sekitar tempatku berdiri. Wangi-wangian yang semerbak kian menambah eksotisme taman mungil ini. Di atas taman itu ada sebuah bukit yang terlihat hijau nan asri. Tak menyangka, ternyata di atas tanah konflik dua negara ini ada sebuah tempat yang begitu indah seperti yang kini Palestin perlihatkan kepadaku.
            Sejenak ku nikmati kesegaran alam yang membawaku nyaman di dalamnya. Palestin berlarian ke sana ke mari dan memberiku setangkai mawar biru yang begitu indah.
            “Dulu aku sering ke sini sama Abi dan Umiku.”
            “Oh ya? Hmmm....bagus sekali Palestin pemandangnnya. Lihat itu, kakak mau ke bukit itu. Kamu mau ikut?” Palestin menggeleng dan aku memandangnya heran. Ada garis kesedihan pada raut wajahnya.
            “Kenapa Palestin?” Ada sedikit perasaan bersalah menyelimuti hatiku karena anak itu kian tertunduk lesu. Ia membalikkan badan lalu meninggalkan tempat ini. Aku semakin terheran dan ku ikuti dia dari belakang sambil ku perhatikan baik-baik bukit itu dari jauh.
Tiba-tiba....
            Terdengar suara brondongan meriam yang membuatku kaget setengah mati. Aku bingung dan tak tahu harus melakukan apa.
            “Kak, kita harus segera pergi dari sini. Ayo ikut aku!” Tanpa basa-basi aku ikuti saja Palestin pergi dengan hati yang sangat was-was. Inikah yang selalu orang-orang Palestin alami? Tiada ketenangan hidup, semua terlihat kelabu dan mencekam. Aku mendongakkan pandangan ke atas dan gumpalan awan hitam itu semakin pekat. Rintik-rintik hujanpun turun dan membasahi tanah ini. Tak berapa lama kemudian, kami tengah sampai di atas bukit yang ku pikirkan tadi. Bukannya ini bukit yang aku tunjukkan pada Palestin tadi? Kenapa dia mengajakku bersembunyi di sini kalau tadi Palestin terlihat sedih setelah ku ajak dia ke sini beberapa menit yang lalu? Entahlah.
            Di bawah pohon besar ini, aku dan Palestin bersembunyi, sementara itu... tentara musuh telah sampai di taman mini itu. Kami memperhatikan dengan seksama berharap mereka tak temukan kami. Hujan kian deras dan ku lihat beberapa musuh mundur dan beranjak pergi di sekitar tempat persembunyian kami. Ku lihat Palestin menatap langit yang kini warnanya berubah kelabu. Ada air yang membasahi wajahnya, tapi itu bukan karena hujan. Aku menengadahkan tangan dan menatap langit, ia mengikuti gerakanku lalu tersenyum memandangku.
            “Kakak Sabil suka sama hujan?” ia lalu memulai pembicaraan. Aku hanya mengangguk lalu mertangkulnya. Ia terlihat lebih tenang sekarang, begitu juga denganku.
            “Benarkah esok kakak akan kembali ke Indonesia? Jadi itu artinya, kita ngga bisa sama-sama lagi donk kan?” Ada sinar penuh harap di mata Palestin, aku bisa menangkapnya. Dia tak ingin aku meninggalkannya. Begitu juga denganku Palestin... Aku juga tak ingin meninggalkan tempat ini. Tempat yang memberiku banyak pelajaran. Pelajaran yang ku dapat dari dirimu, gadis kecil.
            “Palestin, jangan takut. Ada yang selalu menjagamu, menjaga kita.”
            “Siapa?”
            “Allah SWT, benar begitu? Kamu jangan sedih.”
            “Iya kak... Tapi... apakah esok kakak masih bisa menjaga aku? Emm, kalau ngga juga ngga apa-apa kak. Sekarang Palestin sudah tidak takut lagi, Palestin akan jadi seorang pemberani seperti Abi.”
            Aku menghela nafas panjang dan berkata “Palestin, maaf...sepertinya besok... kakak ngga bisa ninggalin kamu, kaka terlalu sayang sama kamu.” Aku mencubit pipinya.
            “Artinya??” ada rona bahagia yang menyelimuti wajah ayunya.
            “Artinya, kak Sabilla akan jagain kamu di sini dan esok ngga jadi pulang. Hehe...”
            “Benarkah?? HOREEE.....!!” Teriaknya sambil melompat kegirangan.
Rintik-rintik hujan semakin memudar, sang mentari kembali muncul ke peraduan, dan ku lihat di atas bukit ini, ada lengkungan cahaya bertabur warna, warna yang menghibur hariku bersama Palestin, si gadis kecil yang pemberani.

***
(never) ending story

TOM S'RIUS



Mendadak Tom Cruise
        Saat ini, jujur aku lagi setengah tertawa karena pikiranku terus  terganggu akan kedatangan seorang aktor Barat, Tom Cruise. Semua ini berawal dari acara tv yang tak sengaja aku tonton. Seseorang memainkan pistol dengan gaya laganya yang khas, lincah dan itu sangat keren. Ditambah lagi... wajahnya yang begitu tampan dan fisik yang athletis. Ngga tahu kenapa, aku langsung jatuh hati padanya, lebih tepatnya ng’fans sih.

I just want your smile
Coz your smile better than anything ^^

            Meskipun tuh film laga yang ia bintangi terbilang cukup menegangkan, tapi senyumnya selalu tak bisa lepas dari wajah tampannya. Wajar kalau tiba-tiba aku terkena virus merah jambu karenanya. Terlalu berlebihan ngga sih? Ngga lah, banyak kok orang yang mengalami gejala sepertiku ini.
            Salah satu film yang ia bintangi dan sempat menjadi sorotan publik yaitu Mission Imposible yang juga merupakan film trilogi. Masih terngiang dibenakku, Tom Cruise berperan sebagai Ethan Hunt dalam film tersebut. Gayanya itu lho yang aku suka dari dia. Enerjik!
***
Datangnya Tamu Special
Hari pertama di kampus... ngga ada bedanya menurutku. Di kampus sama di sekolahku yang dulu sama saja. Kalau di sekolah ada MOS, di kampus ada OSPEK. Dapat teman baru sudah pasti, pengajar baru? Iya jelas. Sama-sama serba baru. Bedanya satu doank, kalau di sekolah pakai seragam, di kampus bebas mau pakai baju mana aja. Seneng juga sih.
            Seperti kebanyakan mahasiswa baru, kami disuruh memperkenalkan diri masing-masing di depan ruang kuliah. Suruh juga menyebutkan motivasi masuk ke perguruan tinggi ini. Jujur, motivasiku sangat simple, ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya dan aku ngga terlalu memikirkan: setelah lulus mau jadi apa? Haha. Nasib orang siapa yang tahu. Hanya berusaha dan doa. Penting!
            Acara perkenalan pun selesai, pelajaran baru akan segera di mulai. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara pintu diketok dari luar. Dosen pun mempersilahkan masuk seseorang yang ternyata juga anak baru yang terlambat datang.
            “Silahkan perkenalan dulu mas.” Kata Pak Dosen. Aku masih sibuk mengeluarkan beberapa alat tulis dari dalam tas waktu itu sebelum akhirnya...
            “Perkenalkan, nama saya...Ethan...(bla-bla-bla)” seketika pandanganku tertuju pada mahasiswa baru tersebut karena sebuah nama yang tak asing lagi ditelingaku baru saja disebut. Ethan??. Dalam hati aku berteriak: “TOM CRUISE??!!! Dia ada di sini!!” Dia begitu mirip sama aktor barat itu. Dari cara ia tersenyum, bergaya... semuanya. Aku mencubit pipiku berkali-kali, ini mimpi bukan sih? Bukan, ini bukan mimpi. Idolaku ada di depan mata dan perlahan-lahan ia berjalan menuju kursi kosong di dekatku. Aku masih mendelik ke arahnya. Dan seperti gaya Tom, ia tebarkan senyum mautnya itu. Aku melihat sekeliling dan ternyata semua temanku juga terpesona akan ketampanan Ethan. Sekarang hatiku menjerit dan aku ingin sekali tertawa karena saat ini dia benar-benar duduk di samping kursiku.
            Benar saja, virus-virus merah jambu mulai lagi bertebaran di area pikiranku. Aku ingin sekali menyapanya tapi... aku tidak bisa. Aku kaku. Akhirnya, ku biarkan dia yang ...
            “Hai, aku Eth....”
            “Ethan Hunt!! Oke, aku June.” June?? Sudah pasti aku nglantur. June, dia lawan main Tom dalam salah satu filmnya.
Ku biarkan senyumku terkembang pagi ini, diiringi warna-warni pelangi yang menyejukkan hati. Aku ngga bisa ngebayangin hari-hariku selanjutnya, hari baru bersama Tom S’rius.
***
(½Fiktif-½Riil)

Senin, 17 Desember 2012

Antara Jogja, Jombang dan Terang mBulan


            Kali ini, aku merantau guna memantapkan hati untuk melanjutkan study di kota pelajar Yogyakarta. Untuk beberapa tahun ke depan, Jogja akan selalu menemani hari-hariku lewat ilmu-ilmu baru yang akan selalu mengalir untukku tentunya. Tak terbesit di fikirku kalau takdir membawaku ke sebuah tempat yang menurutku akan sangat memberi pengalaman berharga. Betapa bahagianya Ibu ketika mendengar berita bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sebuah Universitas Negeri di Jogja. Wajahnya tiba-tiba merah merona dan sedikit demi sedikit air matanya menetes membasahi wajahnya yang ayu. Aku mendekap erat Ibu sembari meluapkan kerinduan yang mungkin tak akan ku dapatkan setiap hari selama kepergianku ke Jogja. Ibuku sayang, jangan menangis Bu, anakmu yang paling bandel ini meminta restu Ibu, Izinkan Rama mewujudkan cita-cita nyata di kota baru yang telah siap menyambut kedatanganku.
            Berat memang, meninggalkan kampung halaman yang telah mendarah daging di hati kita. Terutama Ibu, Ibu yang setiap pagi memasakkan masakan terlezat yang pernah aku rasakan, sekarang aku harus memasak sendiri, tanpa mencium bau sedap masakan Ibu. Setiap pagi, ketika akan berangkat sekolah, selalu ku cium tangan Ibu dan Ibu yang selalu mendoakanku, sekarang... lagi-lagi aku harus mandiri dan tak ada sosok terhebat di sampingku. Air mataku mulai berlinang bersamaan dengan keberangkatanku menuju kota pelajar. Bus patas membawaku melaju cepat bersama hembusan angin sepoi-sepoi di malam benderang. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, langit malam itu begitu sempurna. Bulan purnama dan ribuan bintang-bintang menghiasi langit Madiun, Jawa Timur. Tak terasa, sudah 2 jam aku berada dalam bus bersama orang-orang yang ternyata satu tujuan denganku: Jogja. Begitu populernya kota itu, tak disangka, aku akan memasukimu Jogja, lewat kegigihanku memantapkan hati di kampus baru guna mewujudkaan cita-cita yang telah ku idam-idamkan, menjadi Master Sastra Arab yang berguna bagi orang lain. Amiin
             Ust. Ibrahim, seorang pimpinan pondok pesantren Terang mBulan di daerahku lah yang menjadi motivatorku. Beliau yang mengarahkanku untuk mendalami sastra Arab. Begitu indahnya huruf Arab dan makna di baliknya, membuatku ingin tahu lebih jauh dan mengkajinya secara mendalam. Sahabatku seiman dan seirama : Hafiz, Haidar, Ihwan tanpa kalian, hidup ini kurang berwarna. Kalian yang selalu membuat hari-hari yang t’lah kita lewati menjadi penuh canda tawa, senyuman, ke-gokilan , hahaha..... Kita yang selalu bergenggaman tangan- saling memberi dorongan semangat, tetaplah beristiqomah untuk ini, genggaman hati ini lebih kuat, meskipun ragaku berada di Jogja. Tetaplah kota Jombang sebagai awal dan akhir ku menyongsong perjuangan dan cita-cita. Sebuah pondokan di Jombang yang telah membuka mata hatiku, pondok pesantren Terang mBulan, di sana ku temukan berbagai sumber ilmu, inspirasi, semangat, bersama orang-orang luar biasa. Ramadhan akan selalu mengingat dan merindukan masa-masa itu.
Faida Mumtadz,  juga merupakan  motivasi nyata yang senantiasa menyibakkan hariku menjadi biru bak permadani Samudera.  Bayangkan, dialah sahabatku dari kecil yang selalu mensuport  keinginanku hingga detik ini. Ia sosok mengagumkan di mataku, lembut hatinya, bahkan ku pikir, tak pernah sedikitpun ia menyakitiku maupun orang lain di sekelilingnya. Pandangannya penuh keteduhan, wajah ayunya bercahaya. Aida, beruntungnya aku memiliki sahabat sebaik kamu. Terimakasih atas semua dukungan dan doa-doa yang selalu kau kirimkan kepadaku selama ini. Kau sudah seperti bagian dari hidupku yang selalu menaungi hari-hariku layaknya mentari sebagai penerang, bulan sebagai penyejuk malam dan awan layaknya penaung kesejukan jiwa. Aku tak tahu harus bagaimana membalas kebaikan dan ketulusanmu. Mungkin saat ini, hanya doa yang dapat ku berikan kepadamu lewat sayup-sayup syahdunya malam.
            Huhhff...ku hembuskan nafas sambil ku seka keringat yang menetes di pipi. Malam ini, entah mengapa mendadak ku merasa darah mengalir deras dari dalam tubuh dan udara begitu panas. Mungkin karena ada pergantian musim dalam kurun waktu yang tak lama lagi, atau mungkin karena kekhawatiranku akan sebuah kerinduan kampung halaman dan orang-orang hebat yang pernah mengisi hari-hariku ketika nanti telah ku injakkan kaki di Jogja. Aku yang selalu terbiasa hidup di tengah-tengah mereka, mulai besok, wajah-wajah penuh arti itu hanya bisa ku pandang dan ku rasa lewat mimpi-mimpi yang akan selalu ku harapkan kehadirannya di setiap malamku. 

Ibu, Ayah, adik-adikku, Aida, Ust. Ibrahim, dan semua teman-teman pondok Terang mBulan, sampai ketemu esok, entah itu kapan.... Yang jelas, di Jogja ini, Aku bakal merindukan kaliaaan..... Rama janji, akan kembali lagi ke Jombang dengan menggenggam impian itu... Membawa gelar Master Sastra Arab

Sabtu, 06 Oktober 2012

Gemilang di Langit Kelabu (1)


Gemilang di Langit Kelabu
Meski semua orang telah meninggalkanku, aku masih punya Allah, tempat berkeluh kesah segala sesuatu yang menimpa diriku saat ini . Beribu-ribu permasalahan datang silih berganti menghampiri hidupku. Mereka tak jenuh jua menghilang dari warna-warni hidupku. Tetapi semua itu tak menyurutkan niatku guna mengejar cita-cita, Hongkong, sebentar lagi aku akan merengkuhmu lewat sederet semangat yang harus ku sematkan dalam jiwa yang mulai merapuh dan aku harus segera bangkit dari kehidupan serba runyam ini. Jenuh??? Ya, setiap orang mungkin pernah mengalami kejenuhan, seperti aku, setiap pagi siang sore aktivitas ku hanyalah memungut sampah dari rumah ke rumah. Tak jarang, orang-orang di kompleks gubugku mennyebutku manusia sampah. Aku tak mempunyai tempat tinggal yang pasti. Terkadang di emperan toko, di pinggir jalan, dan yang paling sering ku jadikan kasur empuk untuk tidur...ya tumpukan sampah itu sendiri. Ngeri bukan??? Bagiku, itu sudah menjadi pemandangan yang biasa menghinggapiku setiap hari.  
Hingga saat ini, inilah aku, sendiri, hidup sebatangkara tanpa kasih sayang Ayah, Bunda, Bulik, Paklik, atau siapa sajalah. Hanya tinggal satu keluarga dekatku, Paklik Yahya yang rumahnya di seberang pulau. Jauh memang, maka dari itu, tak mungkin aku silaturahmi ke sana. Semua serba repot, tak ada uang, tak bisa pergi, terpaksa ku tunda niatku menjenguk Paklik di sana. Toh Paklik juga tak peduli dengan keadaanku sekarang. Buktinya, 2 tahun yang lalu sejak kepergian Ibu, jangankan menengok, telpon saja tak pernah. Padahal, hanya ini satu-satunya barang berhargaku yang Ayah hadiahkan kepadaku, HP jadul yang bisa dimanfaatkan jika aku membutuhkan sesuatu. Tapi, bagiku sama saja Yah, tak ada yang peduli denganku. Ya...mungkin hanya Si Badri yang setia menemaniku sms kala malam saat kejenuhan mulai menggelayutiku.
Hoohh...aku membuang nafas kala matahari tepat di atas ubun-ubunku, otak mulai mendidih karena memang sengatannya luar biasa, tak seperti biasanya. Aku kelelahan setelah seharian mengais-ngais sampah yang tak seberapa ku dapatkan hari ini. Entahlah, mungkin orang-orang mulai terketuk kesadarannya. Bisa saja mereka telah memisahkan sampah-sampah itu lalu menjualnya dan diprodulsi menjadi barang yang lebih bermanfaat , meski aku akan mengalami sedikit kerugian karena perlakuan mereka. Ya, tak apalah, setidaknya mereka tak lagi seenaknya melempar sampah, seperti yang pernah ku alami tempo dulu. Tragedi Perumahan Permai Pavil no.57, hampir saja merenggut nyawaku. Bayangkan, saat hendak mengambil sampah di depan rumah mewah itu, tiba-tiba pecahan botol minuman keras mendarat keras, tepat mengenai pelipisku. Benda itu terlempar dari dalam rumah megah itu, dan seketika aku terhuyung, darah mengalir deras hingga membasahi tubuhku. Kala itu, Ayah masih hidup, ia langsung membawaku ke klinik terdekat. Syukurlah, dokter bergerak cepat, sehingga nyawaku masih bisa tertolong meski 10 jahitan harus ku rasa dengan keperihan luar biasa. Ayah....jika ku ingat semua itu, tak dapat ku sembunyikan jika air mataku ikut menetes deras seperti darah yang pernah mengalir dan kau menyekanya dengan penuh kasih sayang. Saat ini, aku membutuhkan sosok sepertimu. Aku merindukanmu Yah.....
“Lang, kau harus katakan SELAMAT padaku, ayolah...mau tau kenapa??hahaha....”
“Paling juga si anak gedongan berambut pirang itu yang membuatmu tambah stress seperti ini. Setiap pagi siang sore pekerjaanmu melamun, senyam-senyum, sms an....mendingan bantuin aku. Noh, masih banyak sampah yang belum kau ambil ! huhh..ni anak”
“Rumah....Rumah Gemilang gimana? Udah kau angkut sampahnya?”
“Belum...khusus buat kau Dri. Kurang baik apa aku? Tak akan ku ambil sampah di rumahnya, itu sudah menjadi kewajibanmu kalau urusan yang satu ini.”
“Hahaha...bisa aja kau Lang.” Bdri menyenggol bahuku dan segera berlari menuju rumah gedongan milik pengusaha sapi perah yang anaknya ditaksir Si Badri. Sebut saja namanya Gemilang, cantik rupawan, mirip artis blasteran, Arumi Bachin. Cukuplah ia berjalan , semua orang terpukau melihat keanggunannya. Apalagi kalau tersenyum, hmmm...dijamin laki-laki manapun klepek-klepek dibuatnya. Termasuk Badri, haha...dasar tuh anak. Berani-beraninya ia sms dengannya, berbohong pula. Ngaku-ngaku aja jadi pengusaha sukses, eh, kenyataannya pengusaha amburadul. Aku tersenyum, cengar-cengir membayangkan tingkah temanku yang satu ini. Tapi, apapun itu kau Dri, kan ku selipkan namamu khusus di deretan awal kamus perjalanan hidupku. Aku kurang baik apa coba??!! Huuu.....
Bersambung ...